Kamis, 30 April 2009
at
13.28
|
Waktunya Mempromosikan Diri
Bagian dari awal sebelum kita bisa diterima kerja, adalah biasanya harus melalui sebuah proses yang disebut wawancara. Satu tindakan penting ini bisa menentukan nasib kita di kemudian hari. Dari tes wawancara bisa menentukan apakah kita bisa diterima bekerja ataukah tidak nantinya.
Dalam sebuah seminar yang diadakan di Politeknik Batam pada hari Sabtu (24/3) tentang Kiat Menghadapi Wawancara Kerja, Harry Rahardjo, Senior HR, Coorporate Affair Manager PT Adhya Tirta Batam, memaparkan berbagai hal seputar teknik wawancara kerja.
Wawancara sebetulnya memiliki tiga tahap, awal, lanjutan, dan akhir. Wawancara awal biasanya digunakan sebagai kesempatan awal untuk menjual dan mempromosikan. Sedangkan dalam wawancara lanjutan merupakan ajang untuk menggali potensi diri. Dan di tahap wawancara akhir sudah merupakan tahap penerimaan kerja.
“Perlunya wawancara bagi pihak perusahaan sendiri adalah untuk menginformasikan apa yang ada dalam berkas lamaran kerja, memastikan pekerjaan yang ditentukan dengan klarifikasi, dan menggali informasi kandidat lebih dalam,” jelas Harry.
Meski sudah banyak teori yang memaparkan tentang apa itu wawancara kerja, namun masih ada juga yang belum tahu apa yang akan dinilai dalam wawancara kerja. Sebetulnya dalam proses tersebut, ada beberapa hal yang menjadi pokok-pokok penilaian.
Poin-poin yang menjadi bahan penilaian dalam wawancara kerja antara lain impression, education and training, experience, abilities, personal quality, mativation, interest, dan kemampuan manajerial.
Dari poin-poin tersebut, Harry pun menjelaskan beberapa contoh perihal wawancara. Misalnya masalah kesan pertama yang terjadang sering diabaikan oleh banyak orang. “Sepele tapi penting. Seperti masalah bau mulut atau bau badan. Penampilan itu bisa jadi nomor satu,” imbuh Harry.
Hal yang terlihat remeh namun bisa jadi berpengaruh dalam penilaian pribadi pewawancara adalah masalah sepatu. Jika perlu saran Harry, gunakan sepatu berhak untuk wanita atau jenis sepatu yang bisa menimbulkan langkah berwibawa. Disarankan untuk tidak menggunakan sepatu keds saat datang wawancara terutama untuk perusahaan yang membutuhkan posisi yang bekerja di dalam perkantoran.
Dalam seminar tersebut, Harry juga menyarankan beberapa hal lainnya seperti membaca buku-buku untuk menunjang kemampuan kepribadian seperti Personality Plus, Berpikir dan Berjiwa Besar, hingga Question Are The Answers. “Jangan lupa untuk cari informasi tentang perusahaan yang sedang kita lamar,” imbuh Harry. (ika)
Lebih Baik Minta Waktu Lain
Dalam proses wawancara, peserta tes tersebut hendaknya benar-benar menyiapkan diri baik itu dalam hal fisik, psikologis, hingga pengetahuan yang memang dibutuhkan dalam wawancara tersebut.
“Kita harus mempersiapkan diri sebaik mungkin dalam wawancara. Mulai dari fisik, mental, pengenalan medan, hingga latihan,” imbuh Harry.
Lantas bagaimana jika sewaktu dipanggil tes wawancara, tiba-tiba kita mengalami sakit? Banyak dari pelamar yang bingung, apa yang harus dilakukan ketika mengalami kondisi tersebut.
Dan kebanyakan dari pelamar akhirnya memilih untuk masuk mengikuti tes wawancara meski dalam kondisi sakit. Padahal ketika dalam kondisi sakit, otomatis kemampuan untuk menjawab pertanyaan demi pertanyaan dalam wawancara bisa jadi terganggu.
“Bila sakit, lebih baik berkata saja jujur dan minta waktu lain untuk tes wawancara. Kalau kita demikian, ini justru bisa jadi komunikasi bagus. Bukan malah mengurangi nilai poin kok, justru sebaliknya malah bisa jadi kita punya nilai plus. Nilai minus itu kalau kita telat dalam wawancara,” terang Harry. (ika)
Bagian dari awal sebelum kita bisa diterima kerja, adalah biasanya harus melalui sebuah proses yang disebut wawancara. Satu tindakan penting ini bisa menentukan nasib kita di kemudian hari. Dari tes wawancara bisa menentukan apakah kita bisa diterima bekerja ataukah tidak nantinya.
Dalam sebuah seminar yang diadakan di Politeknik Batam pada hari Sabtu (24/3) tentang Kiat Menghadapi Wawancara Kerja, Harry Rahardjo, Senior HR, Coorporate Affair Manager PT Adhya Tirta Batam, memaparkan berbagai hal seputar teknik wawancara kerja.
Wawancara sebetulnya memiliki tiga tahap, awal, lanjutan, dan akhir. Wawancara awal biasanya digunakan sebagai kesempatan awal untuk menjual dan mempromosikan. Sedangkan dalam wawancara lanjutan merupakan ajang untuk menggali potensi diri. Dan di tahap wawancara akhir sudah merupakan tahap penerimaan kerja.
“Perlunya wawancara bagi pihak perusahaan sendiri adalah untuk menginformasikan apa yang ada dalam berkas lamaran kerja, memastikan pekerjaan yang ditentukan dengan klarifikasi, dan menggali informasi kandidat lebih dalam,” jelas Harry.
Meski sudah banyak teori yang memaparkan tentang apa itu wawancara kerja, namun masih ada juga yang belum tahu apa yang akan dinilai dalam wawancara kerja. Sebetulnya dalam proses tersebut, ada beberapa hal yang menjadi pokok-pokok penilaian.
Poin-poin yang menjadi bahan penilaian dalam wawancara kerja antara lain impression, education and training, experience, abilities, personal quality, mativation, interest, dan kemampuan manajerial.
Dari poin-poin tersebut, Harry pun menjelaskan beberapa contoh perihal wawancara. Misalnya masalah kesan pertama yang terjadang sering diabaikan oleh banyak orang. “Sepele tapi penting. Seperti masalah bau mulut atau bau badan. Penampilan itu bisa jadi nomor satu,” imbuh Harry.
Hal yang terlihat remeh namun bisa jadi berpengaruh dalam penilaian pribadi pewawancara adalah masalah sepatu. Jika perlu saran Harry, gunakan sepatu berhak untuk wanita atau jenis sepatu yang bisa menimbulkan langkah berwibawa. Disarankan untuk tidak menggunakan sepatu keds saat datang wawancara terutama untuk perusahaan yang membutuhkan posisi yang bekerja di dalam perkantoran.
Dalam seminar tersebut, Harry juga menyarankan beberapa hal lainnya seperti membaca buku-buku untuk menunjang kemampuan kepribadian seperti Personality Plus, Berpikir dan Berjiwa Besar, hingga Question Are The Answers. “Jangan lupa untuk cari informasi tentang perusahaan yang sedang kita lamar,” imbuh Harry. (ika)
Lebih Baik Minta Waktu Lain
Dalam proses wawancara, peserta tes tersebut hendaknya benar-benar menyiapkan diri baik itu dalam hal fisik, psikologis, hingga pengetahuan yang memang dibutuhkan dalam wawancara tersebut.
“Kita harus mempersiapkan diri sebaik mungkin dalam wawancara. Mulai dari fisik, mental, pengenalan medan, hingga latihan,” imbuh Harry.
Lantas bagaimana jika sewaktu dipanggil tes wawancara, tiba-tiba kita mengalami sakit? Banyak dari pelamar yang bingung, apa yang harus dilakukan ketika mengalami kondisi tersebut.
Dan kebanyakan dari pelamar akhirnya memilih untuk masuk mengikuti tes wawancara meski dalam kondisi sakit. Padahal ketika dalam kondisi sakit, otomatis kemampuan untuk menjawab pertanyaan demi pertanyaan dalam wawancara bisa jadi terganggu.
“Bila sakit, lebih baik berkata saja jujur dan minta waktu lain untuk tes wawancara. Kalau kita demikian, ini justru bisa jadi komunikasi bagus. Bukan malah mengurangi nilai poin kok, justru sebaliknya malah bisa jadi kita punya nilai plus. Nilai minus itu kalau kita telat dalam wawancara,” terang Harry. (ika)
Posted by
2hard4remember.aka.achenx
Label:Kesempatan
Informasi
0 comments:
Posting Komentar