Kasus Prita Mulyasari yang sedang menghangat belakangan ini patut menjadi perhatian bersama disaat kemajuan teknologi bisa menyapa siapa saja. Bermula dari surat pembaca dan email yang tersebar diberbagai millis, kini Prita Mulyasari ditahan sejak 13 Mei 2009 di LP Wanita Tangerang, Banten dan harus menghadapi persidangan pidana. Dia dijerat Pasal 27 Undang-Undang nomor 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. Prita digugat oleh RS Omni karena dia mengeluh tentang pelayanan RS itu lewat email.

Inilah isi lengkap email Prita Mulyasari yang dimuat di surat pembaca detik pada Sabtu, 30/08/2008 11:17 WIB dengan judul RS Omni Dapatkan Pasien dari Hasil Lab Fiktif


Jakarta - Jangan sampai kejadian saya ini akan menimpa ke nyawa manusia lainnya. Terutama anak-anak, lansia, dan bayi. Bila anda berobat berhati-hatilah dengan kemewahan rumah sakit (RS) dan title international karena semakin mewah RS dan semakin pintar dokter maka semakin sering uji coba pasien, penjualan obat, dan suntikan.

Saya tidak mengatakan semua RS international seperti ini tapi saya mengalami kejadian ini di RS Omni International. Tepatnya tanggal 7 Agustus 2008 jam 20.30 WIB. Saya dengan kondisi panas tinggi dan pusing kepala datang ke RS OMNI Internasional dengan percaya bahwa RS tersebut berstandard International, yang tentunya pasti mempunyai ahli kedokteran dan manajemen yang bagus.

Saya diminta ke UGD dan mulai diperiksa suhu badan saya dan hasilnya 39 derajat. Setelah itu dilakukan pemeriksaan darah dan hasilnya adalah thrombosit saya 27.000 dengan kondisi normalnya adalah 200.000. Saya diinformasikan dan ditangani oleh dr Indah (umum) dan dinyatakan saya wajib rawat inap. dr I melakukan pemeriksaan lab ulang dengan sample darah saya yang sama dan hasilnya dinyatakan masih sama yaitu thrombosit 27.000.

dr I menanyakan dokter specialist mana yang akan saya gunakan. Tapi, saya meminta referensi darinya karena saya sama sekali buta dengan RS ini. Lalu referensi dr I adalah dr H. dr H memeriksa kondisi saya dan saya menanyakan saya sakit apa dan dijelaskan bahwa ini sudah positif demam berdarah.

Mulai malam itu saya diinfus dan diberi suntikan tanpa penjelasan atau izin pasien atau keluarga pasien suntikan tersebut untuk apa. Keesokan pagi, dr H visit saya dan menginformasikan bahwa ada revisi hasil lab semalam. Bukan 27.000 tapi 181.000 (hasil lab bisa dilakukan revisi?). Saya kaget tapi dr H terus memberikan instruksi ke suster perawat supaya diberikan berbagai macam suntikan yang saya tidak tahu dan tanpa izin pasien atau keluarga pasien.

Saya tanya kembali jadi saya sakit apa sebenarnya dan tetap masih sama dengan jawaban semalam bahwa saya kena demam berdarah. Saya sangat khawatir karena di rumah saya memiliki 2 anak yang masih batita. Jadi saya lebih memilih berpikir positif tentang RS dan dokter ini supaya saya cepat sembuh dan saya percaya saya ditangani oleh dokter profesional standard Internatonal.

Mulai Jumat terebut saya diberikan berbagai macam suntikan yang setiap suntik tidak ada keterangan apa pun dari suster perawat, dan setiap saya meminta keterangan tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan. Lebih terkesan suster hanya menjalankan perintah dokter dan pasien harus menerimanya. Satu boks lemari pasien penuh dengan infus dan suntikan disertai banyak ampul.

Tangan kiri saya mulai membengkak. Saya minta dihentikan infus dan suntikan dan minta ketemu dengan dr H. Namun, dokter tidak datang sampai saya dipindahkan ke ruangan. Lama kelamaan suhu badan saya makin naik kembali ke 39 derajat dan datang dokter pengganti yang saya juga tidak tahu dokter apa. Setelah dicek dokter tersebut hanya mengatakan akan menunggu dr H saja.

Esoknya dr H datang sore hari dengan hanya menjelaskan ke suster untuk memberikan obat berupa suntikan lagi. Saya tanyakan ke dokter tersebut saya sakit apa sebenarnya dan dijelaskan saya kena virus udara. Saya tanyakan berarti bukan kena demam berdarah. Tapi, dr H tetap menjelaskan bahwa demam berdarah tetap virus udara. Saya dipasangkan kembali infus sebelah kanan dan kembali diberikan suntikan yang sakit sekali.

Malamnya saya diberikan suntikan 2 ampul sekaligus dan saya terserang sesak napas selama 15 menit dan diberikan oxygen. Dokter jaga datang namun hanya berkata menunggu dr H saja.

Jadi malam itu saya masih dalam kondisi infus. Padahal tangan kanan saya pun mengalami pembengkakan seperti tangan kiri saya. Saya minta dengan paksa untuk diberhentikan infusnya dan menolak dilakukan suntikan dan obat-obatan.

Esoknya saya dan keluarga menuntut dr H untuk ketemu dengan kami. Namun, janji selalu diulur-ulur dan baru datang malam hari. Suami dan kakak-kakak saya menuntut penjelasan dr H mengenai sakit saya, suntikan, hasil lab awal yang 27.000 menjadi revisi 181.000 dan serangan sesak napas yang dalam riwayat hidup saya belum pernah terjadi. Kondisi saya makin parah dengan membengkaknya leher kiri dan mata kiri.

dr H tidak memberikan penjelasan dengan memuaskan. Dokter tersebut malah mulai memberikan instruksi ke suster untuk diberikan obat-obatan kembali dan menyuruh tidak digunakan infus kembali. Kami berdebat mengenai kondisi saya dan meminta dr H bertanggung jawab mengenai ini dari hasil lab yang pertama yang seharusnya saya bisa rawat jalan saja. dr H menyalahkan bagian lab dan tidak bisa memberikan keterangan yang memuaskan.

Keesokannya kondisi saya makin parah dengan leher kanan saya juga mulai membengkak dan panas kembali menjadi 39 derajat. Namun, saya tetap tidak mau dirawat di RS ini lagi dan mau pindah ke RS lain. Tapi, saya membutuhkan data medis yang lengkap dan lagi-lagi saya dipermainkan dengan diberikan data medis yang fiktif.

Dalam catatan medis diberikan keterangan bahwa bab (buang air besar) saya lancar padahal itu kesulitan saya semenjak dirawat di RS ini tapi tidak ada follow up-nya sama sekali. Lalu hasil lab yang diberikan adalah hasil thrombosit saya yang 181.000 bukan 27.000.

Saya ngotot untuk diberikan data medis hasil lab 27.000 namun sangat dikagetkan bahwa hasil lab 27.000 tersebut tidak dicetak dan yang tercetak adalah 181.000. Kepala lab saat itu adalah dr M dan setelah saya komplain dan marah-marah dokter tersebut mengatakan bahwa catatan hasil lab 27.000 tersebut ada di Manajemen Omni. Maka saya desak untuk bertemu langsung dengan Manajemen yang memegang hasil lab tersebut.

Saya mengajukan komplain tertulis ke Manajemen Omni dan diterima oleh Og(Customer Service Coordinator) dan saya minta tanda terima. Dalam tanda terima tersebut hanya ditulis saran bukan komplain. Saya benar-benar dipermainkan oleh Manajemen Omni dengan staff Og yang tidak ada service-nya sama sekali ke customer melainkan seperti mencemooh tindakan saya meminta tanda terima pengajuan komplain tertulis.

Dalam kondisi sakit saya dan suami saya ketemu dengan Manajemen. Atas nama Og (Customer Service Coordinator) dan dr G (Customer Service Manager) dan diminta memberikan keterangan kembali mengenai kejadian yang terjadi dengan saya.

Saya benar-benar habis kesabaran dan saya hanya meminta surat pernyataan dari lab RS ini mengenai hasil lab awal saya adalah 27.000 bukan 181.000. Makanya saya diwajibkan masuk ke RS ini padahal dengan kondisi thrombosit 181.000 saya masih bisa rawat jalan.

Tanggapan dr G yang katanya adalah penanggung jawab masalah komplain saya ini tidak profesional sama sekali. Tidak menanggapi komplain dengan baik. Dia mengelak bahwa lab telah memberikan hasil lab 27.000 sesuai dr M informasikan ke saya. Saya minta duduk bareng antara lab, Manajemen, dan dr H. Namun, tidak bisa dilakukan dengan alasan akan dirundingkan ke atas (Manajemen) dan berjanji akan memberikan surat tersebut jam 4 sore.

Setelah itu saya ke RS lain dan masuk ke perawatan dalam kondisi saya dimasukkan dalam ruangan isolasi karena virus saya ini menular. Menurut analisa ini adalah sakitnya anak-anak yaitu sakit gondongan namun sudah parah karena sudah membengkak. Kalau kena orang dewasa laki-laki bisa terjadi impoten dan perempuan ke pankreas dan kista.

Saya lemas mendengarnya dan benar-benar marah dengan RS Omni yang telah membohongi saya dengan analisa sakit demam berdarah dan sudah diberikan suntikan macam-macam dengan dosis tinggi sehingga mengalami sesak napas. Saya tanyakan mengenai suntikan tersebut ke RS yang baru ini dan memang saya tidak kuat dengan suntikan dosis tinggi sehingga terjadi sesak napas.

Suami saya datang kembali ke RS Omni menagih surat hasil lab 27.000 tersebut namun malah dihadapkan ke perundingan yang tidak jelas dan meminta diberikan waktu besok pagi datang langsung ke rumah saya. Keesokan paginya saya tunggu kabar orang rumah sampai jam 12 siang belum ada orang yang datang dari Omni memberikan surat tersebut.

Saya telepon dr G sebagai penanggung jawab kompain dan diberikan keterangan bahwa kurirnya baru mau jalan ke rumah saya. Namun, sampai jam 4 sore saya tunggu dan ternyata belum ada juga yang datang ke rumah saya. Kembali saya telepon dr G dan dia mengatakan bahwa sudah dikirim dan ada tanda terima atas nama Rukiah.

Ini benar-benar kebohongan RS yang keterlaluan sekali. Di rumah saya tidak ada nama Rukiah. Saya minta disebutkan alamat jelas saya dan mencari datanya sulit sekali dan membutuhkan waktu yang lama. LOgkanya dalam tanda terima tentunya ada alamat jelas surat tertujunya ke mana kan? Makanya saya sebut Manajemen Omni pembohon besar semua. Hati-hati dengan permainan mereka yang mempermainkan nyawa orang.

Terutama dr G dan Og, tidak ada sopan santun dan etika mengenai pelayanan customer, tidak sesuai dengan standard international yang RS ini cantum.

Saya bilang ke dr G, akan datang ke Omni untuk mengambil surat tersebut dan ketika suami saya datang ke Omni hanya dititipkan ke resepsionis saja dan pas dibaca isi suratnya sungguh membuat sakit hati kami.

Pihak manajemen hanya menyebutkan mohon maaf atas ketidaknyamanan kami dan tidak disebutkan mengenai kesalahan lab awal yang menyebutkan 27.000 dan dilakukan revisi 181.000 dan diberikan suntikan yang mengakibatkan kondisi kesehatan makin memburuk dari sebelum masuk ke RS Omni.

Kenapa saya dan suami saya ngotot dengan surat tersebut? Karena saya ingin tahu bahwa sebenarnya hasil lab 27.000 itu benar ada atau fiktif saja supaya RS Omni mendapatkan pasien rawat inap.

Dan setelah beberapa kali kami ditipu dengan janji maka sebenarnya adalah hasil lab saya 27.000 adalah fiktif dan yang sebenarnya saya tidak perlu rawat inap dan tidak perlu ada suntikan dan sesak napas dan kesehatan saya tidak makin parah karena bisa langsung tertangani dengan baik.

Saya dirugikan secara kesehatan. Mungkin dikarenakan biaya RS ini dengan asuransi makanya RS ini seenaknya mengambil limit asuransi saya semaksimal mungkin. Tapi, RS ini tidak memperdulikan efek dari keserakahan ini.

Sdr Og menyarankan saya bertemu dengan direktur operasional RS Omni (dr B). Namun, saya dan suami saya sudah terlalu lelah mengikuti permainan kebohongan mereka dengan kondisi saya masih sakit dan dirawat di RS lain.

Syukur Alhamdulilah saya mulai membaik namun ada kondisi mata saya yang selaput atasnya robek dan terkena virus sehingga penglihatan saya tidak jelas dan apabila terkena sinar saya tidak tahan dan ini membutuhkan waktu yang cukup untuk menyembuhkan.

Setiap kehidupan manusia pasti ada jalan hidup dan nasibnya masing-masing. Benar. Tapi, apabila nyawa manusia dipermainkan oleh sebuah RS yang dipercaya untuk menyembuhkan malah mempermainkan sungguh mengecewakan.

Semoga Allah memberikan hati nurani ke Manajemen dan dokter RS Omni supaya diingatkan kembali bahwa mereka juga punya keluarga, anak, orang tua yang tentunya suatu saat juga sakit dan membutuhkan medis. Mudah-mudahan tidak terjadi seperti yang saya alami di RS Omni ini.

Saya sangat mengharapkan mudah-mudahan salah satu pembaca adalah karyawan atau dokter atau Manajemen RS Omni. Tolong sampaikan ke dr G, dr H, dr M, dan Og bahwa jangan sampai pekerjaan mulia kalian sia-sia hanya demi perusahaan Anda. Saya informasikan juga dr H praktek di RSCM juga. Saya tidak mengatakan RSCM buruk tapi lebih hati-hati dengan perawatan medis dari dokter ini.

Salam,
Prita Mulyasari
Alam Sutera
prita.mulyasari@yahoo.com Alamat e-mail ini diproteksi dari spambot, silahkan aktifkan Javascript untuk melihatnya
081513100600

Posted by 2hard4remember.aka.achenx Label:Kesempatan ,
Bagaimana Caranya : HP penghasil UANG

Berbagi Kesempatan untuk Meraih Kesuksesan
Bersama Anda & Orang-orang di Sekitar Anda

Program pembelian Pulsa Elektrik dengan konsep Viral Marketing murni. Anda berpeluang mendapatkan penghasilan tambahan hanya dengan mengubah cara Anda berbelanja pulsa

Keunggulan :

[*]Tidak ada biaya pendaftaran (GRATIS).
[*]Tanpa iuran bulanan maupun target penjualan.
[*]Harga sama dengan harga pasar.
[*]Tidak ada sistem peringkat.
[*]Tidak dibutuhkan keahlian menjual.
[*]Hanya membeli pulsa sebatas kebutuhan sehari-hari.
[*]Tidak ada seminar/pelatihan khusus.
[*]Potensi mendapatkan residual income


Anda Akan berpenghasilan minimal 5 juta per bulan bahkan LEBIH hanya dengan HP dan Ibu Jari Anda

TIDAK PERLU PERGI AMBIL PUSING LAGI

Lihat Dulu Tawaran Kami!Anda Pasti Tertarik!
Klik HP penghasil UANG
Posted by 2hard4remember.aka.achenx Label:Kesempatan
Berikut adalah fakta-fakta yang harus anda ketahui tentang bagaimana cara menghadapi wawancara kerja. Fakta-fakta tersebut disertai dengan tips dan saran-saran untuk mengatasinya.

Tujuan dari Wawancara Kerja adalah untuk mendapatkan pekerjaan.
Fakta 1. Tujuan interview dari sudut pandang anda adalah :
1. “To sell yourself”
2. Untuk memberikan anda kesempatan untuk berbagi informasi tentang pencari kerja dan kebutuhannya, sejarah perusahaan, lingkungan kerja,aktivitas bisnis, dan rencana masa depan. Barulah kemudian anda bisa memutuskan, apakah pekerjaan tersebut memang untuk anda.
Dari sudut pandang pencari kerja, melalui wawancara kerja mereka dapat mempelajari anda dan kemampuan anda, bakat, minat, kepribadian, pengalaman kerja, pendidikan dan motivasi. Wawancara kerja membantu pencari kerja dan organisasi untuk menemukan kandidat yang sesuai dengan kebutuhan mereka.Wawancara pertama adalah proses untuk saling mempelajari kedua belah pihak dan haruslah merupakan dialog dua arah.
Ingat : Wawancara kerja yang baik memerlukan latihan dan persiapan. Persiapan akan membangun rasa percaya diri anda, akan membantu anda lebih santai dan akan membimbing anda dalam mempresentasikan kulifikasi anda. Hal ini merupakan terjemahan dari SUKSES!!. Wawancara apa pun, bahkan yang bukan untuk wawancara kerja, adalah sebuah persiapan untuk wawancara kerja anda selanjutnya.
Apakah resume anda sama pentingnya dengan wawancara kerja?
Fakta 2. Resume membawa kaki anda menuju ke pintu pencari kerja.Resume membantu anda untuk mengkomunikasikan kualifikasi yang anda miliki kepada pencari kerja. Tapi, resume hanya digunakan untuk menyeleksi kandidat-kandidat untuk wawancara kerja. Terkadang, orang yang mewawancarai anda bahkan belum membaca resume anda dan akan membacanya untuk pertama kali selama wawancara kerja dilakukan.
Wawancara kerja adalah tentang keberuntungan dan berada ditempat yang tepat pada saat yang tepat.
Fakta 3. Kadang hal tersebut benar, terutama apabila anda memiliki jaringan. Wawancara kerja adalah keahlian/skill.
Kesempatan anda sukses dalam wawancara kerja akan meningkat apabila anda tahu tentang :
Bersiap untuk wawancara kerja :
• Ceritakan tentang kelebihan anda kepada pencari kerja
• Dress for success
• Gunakan kekuatan kepribadian anda

Jika persiapan anda tidak matang, meskipun anda begitu bagus diatas kertas. Hal tersebut akan menjatuhkan anda. Anda harus meyakinkan pencari kerja bahwa anda memiliki sesuatu untuk ditawarkan. Semua ini bukan keberuntungan, tapi persiapan.
Okay, apa yang harus disiapkan untuk menghadapi wawancara kerja?
Fakta 4. Pelajari perusahaan pencari kerja, seperti sejarah perusahaan, produk dan servis yang dijual, dan lokasi. Cari data laporan tahunan perusahaan, berita press atau literatur lainnya. Atau, pergilah ke perpustakaan dan cari materi-materi tersebut. Anda juga bisa mempelajari perusahaan pencari kerja melalui internet. Bicaralah dengan calon rekan kerja anda atau dengan orang-orang yang tahu tentang perusahaan tersebut.
Jadi, saat pe-wawancara menanyai anda tentang pengetahuan yang anda miliki mengenai perusahaan tersebut (Hal ini selalu ditanyakan oleh pewawancara), anda akan mengejutkan mereka karena pengetahuan anda, tanpa harus mengatakan “Aduh, saya tidah tahu”
Pastikan anda mengetahui bagaimana cara untuk sampai ke perusahaan tersebut dan berapa lama?. Tidak ada alasan untuk terlambat. Tips : Pergilah ke perusahaan yang bersangkutan dan peroleh informasi yang bisa anda dapatkan. Anda akan tahu pasti bagaimana cara untuk sampai ke kantor perusahaan yang bersangkutan – Satu lagi kekhawatiran yang bisa hilang.

Kenali diri anda. Biasakanlah untuk merasa nyaman membicarakan diri anda, karir anda dan apa saja yang telah anda raih. Latihanlah di depan cermin, atau dengan orang lain.
Pikirkan tentang :
• Minat. Pekerjaan seperti apa yang anda inginkan?
• Kemampuan. Keahlian apa yang anda miliki? Keahlian seperti apa yang anda gunakan untuk pekerjaan yang anda inginkan?
• Nilai-Nilai. Perilaku dasar yang anda harus miliki dalam dunia kerja, dengan orang lain, dan diri anda sendiri
• Kelebihan dan Kekurangan. Apa kelebihan anda? Kekurangan apa yang harus dihilangkan untuk mendapatkan pekerjaan tersebut?
• Mengetahui Cita-cita Anda. Tanyakan diri anda, apa yang ingin anda lakukan sampai 5 tahun dari sekarang.
• Mengetahui pertanyaan yang biasa ditanyakan oleh perusahaan kemudian melatih jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan tersebut.
Tips : Apapun pertanyaannya, hubungkan jawabannya dengan pekerjaan.
Berlatihlah berjabatan tangan untuk bisnis dan bagaimana memperkenalkan diri anda.
Benarkah bahwa Pewawancara akan menerima anda karena dia menyukai anda?
Fakta 5. Salah satu alasan kenapa pencari kerja menerima seseorang adalah karena pewawancara merasa nyaman bersama anda dan yakin bahwa anda akan diterima oleh karyawan yang lainnya, atau dengan kata lain, pewawancara menyukai anda. Pewawancara memberi anda kesempatan untuk menunjukkan kepribadian anda, intelektualitas anda, bakat dan minat anda.
Apakah dengan memakai pakaian tertentu akan membantu pewawancara untuk mengingat saya dibanding pelamar lainnya?
Fakta 6. Sekaranglah saatnya untuk membuat pernyataan tentang fashion. Jangan memakai apapun yang dapat mengalihkan perhatian pewawancara dari apa yang sedang anda coba katakan.
Berpakaianlah secara konservatif. Beberapa buku mengatakan bahwa anda sebaiknya berpakaian untuk pekerjaan yang sedang anda kejar. Tapi anda sebaiknya berpakaian lebih baik dari itu, karena anda tidak datang untuk bekerja tapi datang untuk wawancara.
Baik pria maupun wanita sebaiknya memakai pakaian berwarna gelap. Dan jangan lupa hal-hal dibawah ini:
1. Pria sebaiknya tidak memakai anting. Wanita sebaiknya tidak memakai perhiasan yang terlalu mencolok.
2. Baju rapi dan sepatu mengkilat.
3. Jangan memakai parfum yang baunya terlalu mencolok. Banyak orang yang alergi terhadap parfum atau cologne.
Apa yang dimaksud dengan screening interview?
Fakta 7. Banyak pencari kerja yang membuat janji wawancara melalui telepon, tapi mereka juga mungkin akan melakukan interview awal melalui telepon. Anda dipanggil untuk datang pada wawancara resmi tergantung pada bagaimana cara anda melakukan wawancara melalui telepon ini. Bersiaplah, pegang resume anda, informasi perusahaan ataupun alamat yang anda tuju, kertas dan alat tulis. Jangan biarkan si pencari kerja menunggu di telepon sementara anda mencari bahan-bahan tersebut disana sini.
Tips : Ganti mesin penjawab telepon anda ke professional greeting.
(source : Lakeland.com)
Fakta yang harus anda ketahui tentang wawancara kerja.
Artikel ini adalah bagian kedua dari panduan dan trik untuk menghadapi wawancara kerja. Semoga setelah membaca artikel ini, anda akan tahu lebih banyak dan akan lebih siap menghadapi wawancara kerja.
Pewawancara akan lebih memperhatikan penampilan dan tindakan saya dibandingkan dengan apa yang saya katakan.
Fakta 8. Penampilan dan tindakan anda akan menentukan irama dari wawancara. Resepsionis, sekretaris, dan pewawancara tidak memiliki waktu yang cukup untuk mengenal anda, jadi penilaian terhadap karakter, kompetensi dan kemampuan anda didasarkan pada penampilan dan tindakan anda.
Wawancara kerja anda dimulai begitu anda melangkah masuk :
· Melaporlah kepada resepsionis. Jangan lupa tersenyum, tampak sopan dan profesional.
· Duduklah dengan diam dan sopan. Ambillah koran/majalah seperti Wall Street Journal bukan People Magazine.
· Sambut pewawancara dengan nama mereka (Mr., Mrs., Ms.) , dengan senyum dan jabatan tangan yang hangat.
· Tunggu sampai pewawancara memulai percakapan.
· Tetaplah berdiri sampai anda dipersilahkan duduk.
· Biarkan pewawancara memimpin; memberikan pertanyaan pertama dan memulai wawancara.
· Gunakan bahasa tubuh untuk menunjukkan bahwa anda tertarik. Tersenyumlah, berikan jawaban nonverbal ke pewawancara. Pertahankan tatap mata, yang merupakan kunci untuk membangun kepercayaan.
· Duduklah dengan nyaman. Hadapilah pewawancara dengan santai.
· Jangan merokok atau mengunyah permen karet.
· Gunakan kalimat lengkap – hindari jawaban dengan satu kata. Jangan gunakan bahasa gaul ataupun menggumam yang tidak jelas.
· Tunjukkan antusiasme anda! Serta tunjukkan selera humor anda. Kedua hal tersebut akan memberikan kesan yang bagus.
Gaji dan benefits adalah penting. Inilah hal pertama yang harus ditanyakan oleh kandidat.
Fakta 9. Subjek mengenai gaji dan benefits, seperti asuransi atau tunjangan cuti, sebaiknya tidak dibicarakan sampai perusahaan menunjukkan minat kepada anda, yang biasanya dilakukan pada wawancara kedua. Tentu saja akan ada pertanyaan tentang berapa banyak yang anda harapkan, apabila anda belum mencantumkan gaji yang anda harapkan didalam CV. Namun, apabila pewawancara memberikan pertanyaan seperti itu, pada saat wawancara pertama, cobalah untuk menundanya sampai anda tahu banyak tentang posisi yang ditawarkan.
Jika tiba saatnya untuk membicarakan gaji, bersiaplah untuk memberikan jumlah yang anda pikir paling pantas untuk anda. Realistislah. Perhitungkan bahwa gaji bervariasi tergantung pada wilayah, ukuran perusahaan dan kualifikasi anda. Meminta gaji yang terlalu kecil akan merusak kesempatan anda, begitu juga apabila anda meminta terlalu besar. Disamping itu, gaji bukanlan pertimbangan yang paling utama.
Caritahulah, berapa range gaji di perusahaan tersebut sebelum anda melakukan wawancara kerja. Konsultasikan dengan orang-orang yang anda anggap pantas untuk dimintai pendapat.
Bagaimana saya mempersiapkan diri untuk pertanyaan yang belum pernah saya dengar sebelumnya? Apa panduannya?
Fakta 10. Latihan. Jangan asal memberikan jawaban. Yang harus anda lakukan :
· Berpikirlah sebentar untuk menentukan jawaban yang cocok. Dengarkan pertanyaannya dengan seksama. Jangan memikirkan jawaban anda pada saat pewawancara masih berbicara.
· Tawarkan diri anda! Tunjukkan kelebihan anda yang akan sangat berguna bagi perusahaan tersebut.
· Fokus pada pengalaman kerja, kursus atau kualifikasi pribadi yang akan memberikan nilai tambah pada pekerjaan tersebut.
· Tawarkan sesuatu. Bicarakan bahwa anda akan memberikan kontribusi yang besar kepada organisasi. Yakinkan bahwa anda dapat menyelesaikan masalah dan memenuhi tuntutan perusahaan.
· Bersikap tegaslah. Ini berarti bukan agresif, tapi yakin akan kemampuan anda.
· Jangan mengkritik. Jangan menjatuhkan perusahaan sebelumnya, atasan di perusahaan terdahulu atau teman kerja. Hal ini hanya akan memberikan nilai negatif kepada anda.
· Jujurlah apabila ada hal yang belum pernah anda kerjakan sebelumnya. Tapi, jangan meminta maaf dan fokuslah pada atribut yang anda miliki.
Saya tidak tahu apa yang harus saya tanyakan ketika pewawancara menanyakan saya “Apakah anda punya pertanyaan?”
Fakta 11.Apakah anda ingin wawancara tersebut cepat berakhir? Jangan menanyakan hal yang berhubungan dengan pekerjaan yang ditawarkan. Perhatikan bahwa wawancara adalah komunikasi dua arah. Jangan tanyakan apapun yang bisa memberi kesan bahwa anda tidak tertarik dan kurang inisiatif.
Satu langkah dalam wawancara kerja adalah saat pewawancara menanyakan kepada kandidatnya, apakah dia akan cocok dengan perusahaan tersebut. Sebaliknya, bersiaplah untuk bertanya kepada pewawancara bahwa apakah perusahaan akan cocok dengan anda. Sekaranglah saatnya bagi anda untuk bertanya.
Pertanyaan-pertanyaan yang bisa anda tanyakan :
· Bisakah anda mendeskripsikan kandidat yang cocok untuk posisi ini?
· Kapan anda bisa mengambil keputusan ?
· Apakah ada lowongan baru atau mengapa posisi ini ditawarkan/kosong ?
· Bagaimana gaya manajemen pimpinan ?
· Apakah perusahaan menyediakan pendidikan berkelanjutan ?
· Apakah ada evaluasi regular terhadap performance karyawan ?
· Apakah ada periode pelatihan ? dan oleh siapa ?
· Apakah banyak pegawai yang masih bertahan di perusahaan ini ?
Bagaimana dengan pertanyaan ilegal ? Bagaimana saya mempertahankan privacy tanpa harus kehilangan kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan tersebut ?
Fakta 12.Putuskan sebelumnya tentang seberapa sensitifkah anda terhadap pertanyaan seperti itu. Buatlah daftar pertanyaan seperti itu yang mungkin timbul ?.Latihlah beberapa cara untuk menjawabnya .
Kebanyakan wawancara adalah sama, betulkah itu ?
Fakta 13. Kebanyakan pewawancara mengikuti format tertentu.
Tahapan pertama adalah Breaking the Ice, saat percakapan kecil mungkin terjadi.
Tahapan kedua adalah memberikan pertanyaan/memverifikasi informasi, dimana pewawancara akan menanyakan kandidat mengenai informasi-informasi yang berkaitan dengan posisi yang ditawarkan dan memverifikasi semua informasi yang kurang jelas didalam resume.
Tahapan ketiga adalah menjawab pertanyaan. Dan tahapan keempat adalah Menutup wawancara.
Apakah perilaku yang mendasari wawancara kerja?
Fakta 14. Terdapat dasar pemikiran bahwa cara terbaik untuk memprediksikan perilaku masa depan adalah dengan melihat perilaku masa lalu. Cara wawancara seperti ini paling sering digunakan. Pewawancara akan mulai memberikan pertanyaan spesifik yang fokus pada contoh dan hasil dari tindakan anda dimasa lalu.
Pertanyaan yang paling sering ditanyakan adalah “Bagaimana anda menghadapi costumer yang sedang marah ?” Secara umum, kandidat akan menjawab “ Saya akan dengan sopan meminta mereka untuk membicarakan permasalahannya dan kemudian menawarkan bantuan”. Jawaban ini secara teori memang enak didengar, tapi tidak menunjukkan tindakan aktual yang akan anda lakukan. Pewawancara akan menggunakan pertanyaan yang lebih spesifik, seperti “Tolong berikan contoh tindakan yang spesifik yang pernah anda ambil. Apa masalahnya dan bagaimana hasilnya?”.
Pewawancara mencari contoh dan hasil konkrit dari tindakan anda dimasa lalu. Pewawancara sebenarnya ingin mengetahui sifat anda yang sebenarnya dalam menghadapi situasi seperti yang dicontohkan. Sifat-sifat yang ingin dilihat oleh pewawancara adalah Inisiatif, Bisa membuat keputusan, Bisa berinteraksi dengan orang lain, Kemampuan untuk memimpin, Keahlian manajemen, Keahlian komunikasi, Keahlian berorganisasi, Kemampuan memecahkan masalah, dan teamwok.
Persiapan wawancara anda sebaiknya mengikutsertakan sifat-sifat tersebut. Buatlah deskripsi dan contoh kejadian dari semua sifat tersebut diatas. Pastikan bahwa semua cerita memiliki pembukaan, pertengahan, dan penutupan. Kotakkan jawaban anda kedalam tiga langkah proses yaitu :
• Situasi
• Tindakan anda
• Hasil atau penyelesaian masalah.
Bagaimana saya mengetahui bahwa wawancara kerja tersebut sudah berakhir?
Fakta 15. Rata-rata, wawancara dilakukan selama 30 sampai 45 menit. Setelah kandidat memperoleh jawaban atas pertanyaannya, pewawancara akan menutup wawancara tersebut. Inilah saatnya bagi anda untuk mengakhiri presentasi tentang diri anda, dengan catatan yang positif.
Kalau memang anda tertarik, katakan hal tersebut kepada pewawancara. Tanyakan kapan keputusan akan dibuat dan jika terjadi, kapan anda bisa memfollow up melalui telepon. Pastikan bahwa pewawancara mengetahui dengan pasti bagaimana menghubungi anda. Berterima kasihlah atas waktu dan pertimbangan pewawancara. Jabatlah tangan pewawancara dan tersenyumlah sebelum meninggalkan ruangan.
Yang bisa saya lakukan hanyalah menunggu kabar dari perusahaan tersebut, apakah saya yang terpilih untuk posisi tersebut, betulkah ?
Fakta 16. Menunggu bukanlah strategi yang bagus. Dalam waktu 24 jam dari sejak anda diwawancara, tulislah surat yang menyatakan rasa terima kasih anda (bukan dengan tulisan tangan) kepada pewawancara. Pastikan anda mengeja nama pewawancara dengan benar. Tekankan bahwa anda sangat tertarik pada posisi yang ditawarkan dan bahwa anda merasa bahwa anda adalah kandidat yang ideal untuk posisi tersebut. Jika anda belum mendapat kabar apa pun, telepon perusahaan tersebut (hanya sekali saja) dan tanyakan apakah keputusan sudah dibuat atau belum.
Kesimpulan :
Jangan menyerah apabila anda diwawancarai dan tidak menerima penawaran kerja. Kompetisi dalam dunia kerja saat ini sangatlah besar. Anda sudah menjadi pemenang. Walaupun hanya sebuah wawancara kerja, itu berari anda sudah melakukan sesuatu yang benar karena anda mendapat panggilan diantara banyak pelamar. Rasa kecewa selama masa pencarian kerja adalah biasa. Analisa lebih lanjut penampilan anda dalam melakukan wawancara kerja. Apa yang bisa anda perbaiki? Apa hal lebih baik yang anda bisa lakukan untuk wawancara berikutnya? Cobalah belajar dari kesalahan anda dimasa lalu.
Penolakan adalah bagian dari pencarian kerja. Kuncinya adalah anda mau belajar dari proses yang sedang anda jalani. Katakan pada diri anda sendiri bahwa apabila anda tidak mendapatkan sebuah pekerjaan, itu berarti bahwa ada pekerjaan yang lebih baik yang sedang menunggu anda. Ingatlah bahwa sebuah wawancara kerja adalah persiapan untuk menghadapi wawancara kerja berikutnya. Dan apabila anda memberikan kesan yang bagus, maka tidak menutup kemungkinan anda akan dipanggil lagi apabila ada kesempatan kerja yang lain di perusahaan tersebut.
Posted by 2hard4remember.aka.achenx Label:Kesempatan
Ada beberapa kiat-kiat sukses untuk wawancara kerja. Setelah kita mengirimkan CV ke sebuah perusahaan maka setelah itu biasanya kita akan dipanggil untuk wawancara kerja jika perusahaan tertarik dg kita. Adapun tips wawancara supaya sukses sbb:
1. Persiapan yg matang(pra interview):
o Cek lamanya waktu dan rute yg diperlukan untuk sampai ke tempat wawancara, jangan sampai kena macet dan terlambat
o Siapkan waktu untuk antisipasi keterlambatan, misalnya 30 menit sebelum mulai wawancara anda sudah ada di t4 wawancara
o Rencanakan pakaian yg mau anda pake, dress code atau formal
o Tetap merasa nyaman, tenang, rileks, salah satu caranya pake parfum yg sesuai dg jiwa anda(Calvin Klein bagus…, jangan rokokan dulu biar gak bau rokok, tenangkan jiwa dg cara lain)
o Siapkan dan latih teknik yg tepat dengan tetap tenang
o Konfirmasikan kedatangan anda di awal, misalnya”sir, saya akan datang jam 10.00 am”
2. Persiapan interview:
o Baca kembali form aplikasi/CV anda
o Baca den pelajari dengan baik website perusahaan tersebut, brosur, laporan tahunan perusahaan, rencana bisnis, artikel-artikel koran mengenai perusahan
o Tetap up to date dengan isu-isu global yg sedang hangat dengan mambaca koran atau majalah
o Pikirkan tentang pertanyaan yg akan anda ajukan dan siapkan juga respon anda mengenai tanggapan dari pertanyaan tersebut
o Ketahui apa keahlian-keahlian yg kira2 diharapkan perusahaan tersebut dan bagaimana anda bisa memberikan contoh untuk mendemonstrasikannya
o Katakan kelebihan yg anda miliki sehingga bisa menjadi pertimbangan perusahaan kenapa perusahaan harus memilih anda
o Coba mencari tahu siapa yg akan mewawancarai anda, dari departemen yg mana, dan apa spesialisasinya
o Siapkan beberapa pertanyaan yg akan anda tanyakan saat berlangsung wawancara.
o Pelajari pertanyaan-pertanyaan yg biasa ditanyakan dalam wawancara dan cari cara bagaimana anda meng-handlle pertanyaan2 tersebut, seperti pertanyaan2 tentang biografi anda, isu-isu global, kompetensi, skenario, opini, motivasi, penghargaan anda di dunia bisnis, etika
o Hindari kesalahan-kesalahan umum seperti:
§ Kurang persiapan
§ Kurang wawasan umum seperti wawasan tg pekerjaan yg diinginkan, isu global, sehingga ketika wawancara gak nyambung dan kebanyakan diam
§ Meninggalkan kesan negatif pada pekerjaan sebelumnya
§ Menggunakan kata “kami” bukan “saya”. Gunakanlah kata “saya” setiap berbicara bukan “kami” karena yg diwawancarai saat ini adalah anda pribadi bukan team.
§ Tidak memberikan contoh pada setiap pernyataan. Sebaiknya setiap statement anda berikan contoh sehingga memperjelas pernyataan anda tersebut
§ Kuarang antusias dan kurang motivasi
3. Handle setiap pertanyaan dengan baik. Adapun tehniknya adalah sebagai berikut:
o Pikirkan sejenak setiap pertanyaan yg diajukan sebelum anda memberikan jawaban, jangan terlalu lama berpikir dan jangan terlalu cepat pula menjawab
o Jika pertanyaan yg diajukan maksudnya kurang jelas, minta klarifikasi atau pengulangan.
o Hindari jawaban yang berusaha mengalihkan topik ke topik yg tidak relevan dengan pertanyaan
o Gunakan body language anda, terbuka dan percaya diri serta eye contact
o Jangan lupa tersenyum!
4. Setelah wawancara selesai:
o Tetap percaya diri dengan performa tinggi, dan berpikir bahwa anda sudah melakukan/menjawab semua pertanyaan dg baik
o Catat pertanyaan-pertanyaan yg sudah diajukan pd saat wawancara sebagai referensi berikutnya
o Minta feedback dari hasil wawancara anda kepada orang yg sudah mewawancarai anda
o Jika tidak berhasil dlm wawancara, belajar dari kesalahan anda supaya dikemudian hari lebih baik
o Diskusikan dengan teman anda atau dg orang yg lebih tahu tg wawancara anda bisa juga anda diskusikan dg careers adviser
o Tetap berpikir positif!
Semoga membantu dan cepat dapat pekerjaan.
Posted by 2hard4remember.aka.achenx Label:Kesempatan
1. Bagaimana anda menggambarkan diri anda sendiri?

Contoh jawaban yang tepat:
Latar belakang pendidikan telah mempersiapkan diri saya untuk menjadi konsultan keuangan yang terbaik yang pernah ada. Baik, akan saya ceritakan secara rinci bagaimana saya mempersiapkan diri saya. Saya adalah sarjana lulusan perguruan tinggi dengan jurusan akuntansi dan keuangan pada universitas X. Saya menguasai teori mengenai investasi dan juga pengalaman kerja di danareksa selama 2 tahun. Kedua hal itu telah mempersiapkan saya secara matang pada pekerjaan ini.

2. Coba ceritakan tentang diri anda
• Ceritakan tentang diri anda, tetapi bukan kisah hidup anda
• Berikan penjelasan singkat seperti pendidikan, target jabatan yang ingin dicapai, pengalaman pada bidang pekerjaan yang anda lamar dan latar belakang pendidikan yang berhubungan dengan posisi yang anda inginkan.

3. Apa kelebihan yang anda miliki?
Jika membicarakan tentang kelebihan, hal ini tergantung pada jenis pekerjaan yang anda lamar.

4. Apa kelemahan anda?
Pilihan jawaban untuk menjawab pertanyaan mengenai kelemahan diri:

a. Ungkapkan kelemahan anda sebagai suatu hal yang positif :
• "Saya terkadang tidak sabar dan hal itu membuat saya bekerja menjadi berlebihan."
• "Ketika saya memulai suatu pekerjaan, saya biasanya lupa untuk beristirahat makan siang.”
• "Karena saya perfeksionis. Saya selalu menemui kesulitan dalam hal bekerjasama untuk menyelesaikan suatu pekerjaan, karena saya khawatir orang lain tidak dapat menyelesaikan nya sebaik saya."

Catatan : ungkapan perfeksionis sudah terlalu sering di ungkapkan.

b. Kemukakan kelemahan anda dalam suatu bidang dan juga berikan penyelesaiannya :
"Saya mempunyai masalah dengan pengucapan, jadi saya terbiasa membawa kamus sebagai pegangan."

c. Pilihan lain :
• Berikan alasan yang sederhana kepada pewawancara bahwa tidak ada kelemahan anda yang akan membuat hasil pekerjaan anda tidak maksimal.
• Beri pernyataan bahwa kelemahan anda itu adalah suatu kesalahan dan anda telah belajar dari kesalahan itu dan telah belajar untuk mengatasinya.

5. Dimana anda ingin berada dalam 5 (atau 10 atau 15) tahun lagi?
Ini adalah pertanyaan untuk mengetahui apakah ambisi anda, jadi jawablah dengan memberitahu apa yang menjadi cita cita anda dan bagaimana cara anda mewujudkan cita cita tersebut.Sangat penting bagi manusia untuk memiliki ambisi, tetapi jangan sampai terlalu ambisius.


6. Apa yang anda inginkan dalam hidup anda ?
Ungkapkan secara halus pertimbangan ketika merespon pertanyaan jenis ini :

• Kejujuran/ambisi/keinginan anda untuk bekerja pada perusahaan
• Hindari jawaban yang seakan-akan perusahaan itu milik anda.
• Jangan mengungkapkan secara keseluruhan akan hal yang menyangkut pribadi ( seperti pernikahan, keluarga), namun fokus pada tujuan anda secara professional.

Contoh respon terhadap pertanyaan di atas :
• Untuk anda ketahui bahwa saya adalah orang yang tepat untuk mengisi jabatan yang ditawarkan. Dan jika dalam masa mendatang nanti saya dicalonkan pada posisi yang lebih tinggi, maka saya tidak akan melewatkan nya.
• ATAU : " Saya mengharapkan untuk tetap berada dalam perusahaan dan dalam 5 tahun kedepan saya akan membuat perubahan besar dalam perusahaan ini."
• ATAU: "Saya ingin menjadi yang terbaik dalam perusahaan ini sebagai__________."

7. Pernahkah kau mempunyai konflik dengan pimpinan atau pengajar mu?
• Pewawancara akan melihat apakah anda adalah seseorang yang berkualitas atau calon pegawai yang biasa-biasa saja.
• Jangan jatuh kedalam jebakan.
• Dan jika anda benar-benar TIDAK pernah mempunyai masalah, ceritakan bagaimana mengatasi jika anda bertemu dengan masalah.

8. Apa alasan perusahaan kami menggaji anda?
• Ceritakan apa yang membedakan anda dengan kandidat lain.
• Ungkapkan dengan jelas bahwa kemampuan anda dapat memenuhi kebutuhan dari perusahaan.

9. Bagaimana anda menggambarkan pekerjaan impian anda ?
Gambaran tentang pekerjaan impianmu harus tergambar tidak jauh berbeda dengan pekerjaan yang anda lamar saat ini.

10. Apakah anda memilih bekerja pada pencarian informasi atau dengan bekerjasama dengan orang-orang?
• Biasanya pewawancara menjelaskan tentang pekerjaan dan kekuatan pada tiap bagian pekerjaan.
• Jangan membuat diri anda terlihat lemah pada bidang tertentu

11. Kriteria apakah yang harus dimiliki untuk menjadi pimpinan yang sukses?
Pertanyaan itu biasanya mempunyai 2 tujuan :

• Bagaimana anda mengatasi dirimu dengan manajemen.
• Bagaimana anda melihat dirimu sendiri sebagai seorang pimpinan

12. Apakah latar belakang pendidikan anda mempersiapkan anda pada jabatan yang anda inginkan?
Gambarkan latar belakang pendidikan anda yang ada hubungannya dengan pekerjaan yang anda lamar. Berikan contoh nyata, jika memungkinkan.

13. Berapa banyak pelatihan yang akan anda ikuti untuk meningkatkan kualitas kerjamu?
• Kata kuncinya adalah produktif.
• Anda dapat segera produktif. Pastikan ekspresi keyakinan pada dirimu untuk dapat membuat perubahan secepatnya.

14. Kenapa IPK anda tidak terlalu tinggi?
Jangan menyangkalnya dan membuat-buat alasan. Respon anda akan dapat mengubah nilai anda sebagai calon pegawai.

• Anda sangat aktif pada olahraga, kegiatan di luar kampus yang menyebabkan penurunan nilai anda, namun hal itu membuat anda senang berkompetisi.
• Anda bekerja sambilan semasa anda kuliah yang membuat penurunan nilai, namun membuat anda mempunyai pengalaman tentang pekerjaan.
• Anda membuat beberapa kesalahan, dan anda telah belajar dari kesalahan itu dan menjadikan kesalahan itu sebagai pengalaman anda.
Posted by 2hard4remember.aka.achenx Label:Kesempatan
Oleh Johanes Papu
Team e-psikologi
Jakarta, 22 Maret 2002
Wawancara kerja saat ini merupakan salah satu cara yang sangat populer sebagai salah satu metode untuk menyeleksi karyawan. Bagi perusahaan-perusahaan kecil dan menengah wawancara kerja seringkali merupakan metode yang paling diandalkan, mengingat biaya yang dikeluarkan relatif murah dan “user” (baca: atasan) dapat langsung bertatap muka dengan si pelamar. Bahkan pada jabatan tertentu wawancara kerja bisa dilakukan berkali-kali, sebelum calon karyawan diputuskan untuk diterima bekerja. Sementara bagi para pencari kerja, wawancara kerja mungkin sudah dianggap sebagai “menu sehari-hari” yang harus dilalui sebelum resmi diterima bekerja. Anehnya, meskipun sudah memahami betul bahwa wawancara merupakan suatu hal yang biasa dilalui dalam melamar pekerjaan, banyak sekali para pelamar yang tidak siap untuk menghadapi wawancara kerja. Tidak jarang mereka merasa langsung gugup bahkan patah semangat ketika dipanggil untuk wawancara, karena sudah seringkali gagal. Forum konseling dalam website ini banyak dipenuhi oleh pertanyaan-pertanyaan yang menyangkut bagaimana cara menghadapi wawancara kerja. Para penanya tersebut banyak yang menceritakan bahwa mereka telah berkali-kali gagal “melewati” wawancara kerja meskipun diakui bahwa pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh “recruiter” (petugas rekrutmen & seleksi) relatif sama antara perusahaan yang satu dengan perusahaan yang lain tempat mereka melamar pekerjaan. Ada juga penanya yang mengatakan bahwa ia berkali-kali selalu lolos dari semua metode seleksi yang lain (test tertulis, psiko test, dan test ketrampilan) tetapi tetap gagal ketika wawancara.
Permasalahan diatas menggelitik saya untuk mencari tahu lebih jauh apa sebenarnya wawancara kerja. Mengapa wawancara kerja ini penting dilakukan dan mengapa banyak pelamar yang gagal dalam menjalani wawancara kerja tersebut. Lalu kemudian apa saja yang harus dilakukan oleh para pelamar untuk menyiasati wawancara kerja supaya berhasil.
Tujuan Wawancara Kerja
Wawancara kerja (job interview) saat ini merupakan salah satu aspek penting dalam proses rekrutmen dan seleksi karyawan. Meskipun validitas wawancara dianggap lebih rendah jika dibandingkan dengan metode seleksi yang lain seperti psiko test, namun wawancara memiliki berbagai kelebihan yang memudahkan petugas seleksi dalam menggunakannya.
Apapun penilaian pelamar (calon karyawan), wawancara kerja sebenarnya memberikan suatu kesempatan atau peluang bagi pelamar untuk mengubah lowongan kerja menjadi penawaran kerja. Mengingat bahwa wawancara kerja tersebut merupakan suatu proses pencarian pekerjaan yang memungkinkan pelamar untuk memperoleh akses langsung ke perusahaan (pemberi kerja), maka “performance” (baca: proses & hasil) wawancara kerja merupakan suatu hal yang sangat krusial dalam menentukan apakah pelamar akan diterima atau ditolak.
Bagi si pelamar, wawancara kerja memberikan kesempatan kepadanya untuk menjelaskan secara langsung pengalaman, pengetahuan, ketrampilan, dan berbagai faktor lainnya yang berguna untuk meyakinkan perusahaan bahwa dia layak (qualified) untuk melakukan pekerjaan (memegang jabatan) yang ditawarkan. Selain itu wawancara kerja juga memungkinkan pelamar untuk menunjukkan kemampuan interpersonal, professional, dan gaya hidup atau kepribadian pelamar. Jika di dalam CV (Curriculum Vitae) pelamar hanya bisa mengklaim bahwa dirinya memiliki kemampuan komunikasi dan interpersonal yang baik, maka dalam wawancara dia diberi kesempatan untuk membuktikannya.
Bagi perusahaan, wawancara kerja merupakan salah satu cara untuk menemukan kecocokan antara karakteristik pelamar dengan dengan persyaratan jabatan yang harus dimiliki pelamar tersebut untuk memegang jabatan / pekerjaan yang ditawarkan. Secara umum tujuan dari wawancara kerja adalah:
· Untuk mengetahui kepribadian pelamar
· Mencari informasi relevan yang dituntut dalam persyaratan jabatan
· Mendapatkan informasi tambahan yang diperlukan bagi jabatan dan perusahaan
· Membantu perusahaan untuk mengidentifikasi pelamar-pelamar yang layak untuk diberikan penawaran kerja.
Teknik Wawancara Kerja
Dua teknik wawancara yang biasa dipergunakan perusahaan dalam melakukan wawancara kerja adalah wawancara kerja tradisional dan wawancara kerja behavioral. Dalam prakteknya perusahaan seringkali mengkombinasikan kedua teknik ini untuk memperoleh data yang lebih akurat.
· Wawancara kerja tradisional menggunakan pertanyaan-pertanyaan terbuka seperti “mengapa anda ingin bekerja di perusahaan ini”, dan “apa kelebihan dan kekurangan anda”. Kesuksesan atau kegagalan dalam wawancara tradisional akan sangat tergantung pada kemampuan si pelamar dalam berkomunikasi menjawab pertanyaan-pertanyaan, daripada kebenaran atau isi dari jawaban yang diberikan. Selain itu pertanyaan-pertanyaan yang diajukan lebih banyak bersifat mengklarifikasikan apa yang ditulis dalam surat lamaran dan CV pelamar. Dalam wawancara kerja tradisional, recruiter biasanya ingin menemukan jawaban atas 3 (tiga) pertanyaan: apakah si pelamar memiliki pengetahuan, ketrampilan dan kemampuan untuk melakukan pekerjaan, apakah si pelamar memiliki antusias dan etika kerja yang sesuai dengan harapan recruiter, dan apakah si pelamar akan bisa bekerja dalam team dan memiliki kepribadian yang sesuai dengan budaya perusahaan.
· Wawancara kerja behavioral didasarkan pada teori bahwa “performance” (kinerja) di masa lalu merupakan indikator terbaik untuk meramalkan perilaku pelamar di masa mendatang (baca: ketika bekerja). Wawancara kerja dengan teknik ini sangat sering digunakan untuk merekrut karyawan pada level managerial atau oleh perusahaan yang dalam operasionalnya sangat mengutamakan masalah-masalah kepribadian. Wawancara kerja behavioral dimaksudkan untuk mengetahui respon pelamar terhadap suatu kondisi atau situasi tertentu sehingga pewawancara dapat melihat bagaimana pelamar memandang suatu tantangan/permasalahan dan menemukan solusinya. Pertanyaan-pertanyaan yang biasanya diajukan antara lain: "coba anda ceritakan pengalaman anda ketika gagal mencapai target yang ditetapkan”, dan “berikan beberapa contoh tentang hal-hal apa yang anda lakukan ketika anda dipercaya menangani beberapa proyek sekaligus”. Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut si pelamar perlu mempersiapkan diri untuk mengingat kembali situasi, tindakan dan hasil yang terjadi pada saat yang lalu. Selain itu, sangat penting bagi pelamar untuk memancing pertanyaan-pertanyaan lebih lanjut dari pewawancara agar dapat menjelaskan secara rinci gambaran situasi yang dihadapinya. Untuk itu diperlukan ketrampilan berkomunikasi yang baik dari si pelamar. Keberhasilan atau kegagalan dalam wawancara ini sangat tergantung pada kemampuan pelamar dalam menggambarkan situasi yang berhubungan dengan pertanyaan pewawancara secara rinci dan terfokus. Dalam wawancara kerja behavioral, si pelamar harus dapat menyusun jawaban yang mencakup 4 (empat) hal: (1) menggambarkan situasi yang terjadi saat itu, (2) menjelaskan tindakan-tindakan yang diambil untuk merespon situasi yang terjadi, (3) menceritakan hasil yang dicapai, dan (4) apa hikmah yang dipetik dari kejadian tersebut (apa yang dipelajari). Dalam wawancara behavioral ini teknik yang paling sering dipergunakan adalah yang disebut S-T-A-R atau S-A-R atau P-A-R.


Situation
or
Problem
or
Task Pelamar diminta untuk menggambarkan situasi yang terjadi atau tugas-tugas yang harus dilaksanakannya pada masa lalu. Pelamar harus menggambarkan situasi atau tugas tersebut secara spesifik, rinci dan mudah dipahami oleh pewawancara. Situasi atau tugas yang digambarkan dapat berasal dari pekerjaan sebelumnya, pengalaman semasa sekolah, pengalaman tertentu, atau berbagai kejadian yang relevan dengan pertanyaan si pewawancara
Action Pelamar diminta untuk menggambarkan tindakan-tindakan yang diambil dalam menghadapi situasi / masalah / tugas di atas. Dalam hal ini pelamar harus bisa memfokuskan pada permasalahan. Meskipun mungkin permasalahan yang ada ditangani oleh beberapa orang atau team, pelamar harus memberikan penjelasan tentang apa saja peranannya dalam team tersebut – jangan mengatakan apa yang telah dilakukan oleh team tetapi apa yang telah dilakukan pelamar sebagai bagian dari team.
Results Pelamar diminta menjelaskan hasil-hasil apa saja yang dicapai. Apa saja hambatan yang terjadi jika hasil tidak tercapai. Apa yang terjadi kemudian setelah permasalahan tersebut selesai dikerjakan. Lalu apa pelajaran yang dapat dipetik oleh pelamar dari kejadian tersebut.

Jenis Wawancara Kerja
Dalam dunia kerja, dikenal beberapa tipe wawancara kerja sebagai berikut:
· Wawancara Seleksi (Screening Interview). Jika pelamar atau kandidat untuk menduduki jabatan berjumlah lebih dari satu orang maka dilakukan wawancara kerja untuk menyeleksi siapa diantara kandidat tersebut merupakan kandidat yang paling qualified sehingga bisa dilanjutkan ke tahap seleksi berikutnya. Wawancara seleksi biasanya berlangsung singkat antara 15 – 30 menit.
· Wawancara Telepon (Telephone Interview). Demi menghemat biaya dan efisiensi waktu, banyak recruiter yang melakukan wawancara kerja melalui telepon. Oleh sebab itu, pelamar harus siap dihubungi sewaktu-waktu, sebab seringkali recruiter tidak memberikan pilihan bagi pelamar untuk menentukan waktu kapan ia siap diwawancarai melalui telepon.
· Wawancara di Kampus / Sekolah (On-Campus Interview) . Meskipun tidak banyak perusahaan yang melakukan wawancara kerja di kampus, namun untuk perusahaan-perusahaan tertentu yang mencari para lulusan untuk dilatih lebih lanjut, cara ini dinilai sangat efektif karena memberikan akses bagi perusahaan tersebut untuk mendapatkan kandidat terbaik yang mungkin sangat sulit diperoleh jika menunggu para kandidat tersebut datang melamar.
· Wawancara di Pameran Kerja (Job Fair Interview). Pameran kerja diadakan untuk menjembatani perusahaan dengan para pencari kerja. Pada pameran kerja biasanya, perusahaan memberikan berbagai informasi mengenai perusahaannya, menerima surat lamaran dan CV dari pengunjung (pencari kerja), bahkan tidak jarang para recruiter langsung melakukan wawancara di stand (booth) mereka. Di Indonesia memang pameran seperti ini masih sangat jarang dilaksanakan jika dibandingkan dengan pameran otomotif, rumah maupun furniture.
· Wawancara di Lokasi Kerja (On-Site Interview). Ketika seorang kandidat telah lolos dalam tahap wawancara seleksi, seringkali perusahaan mengundang kandidat tersebut untuk melihat secara langsung lokasi kerja. Pada kesempatan tersebut recruiter biasanya langsung melakukan wawancara secara mendalam. Bagi pelamar yang belum memiliki pengalaman kerja pada lokasi yang lingkungannya kurang lebih sama, wawancara kerja di lokasi mungkin bisa terasa menakutkan karena mungkin harus melakukan perjalanan dan berada di wilayah yang tidak ia kenal.
· Wawancara Kelompok (Panel or Group Interview). Wawancara kelompok adalah suatu jenis wawancara kerja dimana para pewawancara (recruiter) terdiri dari 2 (dua) orang atau lebih. Biasanya wawancara jenis ini dilakukan jika perusahaan memandang bahwa pelamar sudah hampir memenuhi syarat untuk diterima bekerja. Biasanya para penanya dalam wawancara inilah yang memiliki wewenang untuk memutuskan apakah pelamar akan diterima bekerja atau tidak.
· Wawancara Kasus (Case Interview). Wawancara kerja jenis ini menekankan pada kemampuan analisis dan pemecahan masalah terhadap suatu kasus tertentu. Biasanya dalam wawancara kasus, pelamar diminta untuk berperan sebagai pemegang jabatan yang ditawarkan, lalu diberikan sebuah kasus untuk dicarikan solusinya.
Pertanyaan-Pertanyaan Umum
Pada umumnya pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dalam wawancara kerja sangat tergantung pada teknik apa yang digunakan oleh si pewawancara. Jika menggunakan teknik wawancara kerja tradisional maka pertanyaan-pertanyaan yang seringkali diajukan adalah sebagai berikut:
· Jelaskan pada saya bagaimana anda menggambarkan diri anda?
· Apa kelebihan dan kekurangan anda?
· Apa saja prestasi yang pernah anda raih pada pekerjaan yang terdahulu / ketika sekolah?
· Mengapa anda berhenti dari perusahaan yang lalu?
· Apa tugas-tugas anda pada pekerjaan yang lalu?
· Darimana anda mengetahui perusahaan ini?
· Mengapa anda tertarik untuk bekerja di perusahaan ini?
· Jika anda diterima bekerja untuk jabatan ini, apa yang akan anda lakukan?
· Apa itu professionalisme menurut anda?
· Apa itu teamwork menurut anda?
· Apa hoby anda?
Dalam wawancara yang menggunakan teknik wawancara kerja behavioral, maka pertanyaan-pertanyaan di atas seringkali ditambahkan dengan pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut:
· Ceritakan pada saya/kami kapan anda mengalami suatu situasi yang sangat tidak menyenangkan dan bagaimana anda berhasil keluar dari situasi tersebut.
· Ceritakan pada saya/kami bagaimana anda meyakinkan klien anda ketika anda melakukan presentasi.
· Coba anda ceritakan bagaimana anda mengatasi situasi dimana anda harus melakukan banyak tugas dan anda harus membuat prioritas tugas mana yang harus didahulukan.
· Bisakah anda ceritakan keputusan apa yang paling sulit anda buat dalam setahun terakhir ini? Mengapa demikian?
· Ceritakan mengapa team anda gagal mencapai target pada tahun sebelumnya dan bagaimana anda memotivasi team tersebut sehingga dapat meraih sukses di tahun berikutnya.
· Bagaimana cara anda menyelesaikan konflik? Bisa beri contoh?
· Bisakah anda ceritakan suatu kejadian dimana anda mencoba untuk menyelesaikan suatu tugas dan ternyata gagal?
· Ceritakan apa yang anda lakukan ketika dipaksa membuat suatu aturan yang tidak menyenangkan bagi karyawan tetapi menguntungkan bagi perusahaan.
Sebagai suatu proses yang melibatkan interaksi antara kedua belah pihak, dalam wawancara kerja si pelamar juga biasanya diberikan kesempatan untuk mengajukan pertanyaan. Oleh karena itu akan sangat baik jika pelamar mempersiapkan beberapa pertanyaan, misalnya:
· Apa yang diharapkan dari saya jika saya diterima untuk jabatan ini?
· Menurut pengalaman di sini, apa yang merupakan tantangan terbesar bagi pemegang jabatan ini?
· Apakah ada pelatihan (internal maupun eksternal) yang dapat membantu saya untuk lebih berperan jika saya diterima bekerja di perusahaan ini?
· Adakah ada hal-hal khusus di luar uraian jabatan yang harus saya selesaikan dalam waktu tertentu?
Menangani Pertanyaan Bersifat Pribadi
Berbeda dengan kondisi di negara-negara maju dimana hak individu sangat dijunjung tinggi dan telah memiliki perangkat hukum sangat memadai tentang hal-hal yang mengatur hak-hak pribadi seseorang sehingga para recruiter (pewawancara) sangat berhati-hati dalam mengajukan pertanyaan, di Indonesia justru sebaliknya. Dalam wawancara kerja di perusahaan-perusahaan di Indonesia seringkali pewawancara justru banyak menggali masalah-masalah yang bersifat pribadi. Contoh: Menanyakan latarbelakang pelamar (orangtua, saudara, istri, anak, status, agama, suku bangsa, umur) adalah merupakan hal yang dianggap biasa.
Meskipun seringkali pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak memiliki relevansi dengan jabatan yang dilamar, pelamar harus menyiapkan diri untuk merespon pertanyaan-pertanyaan tersebut secara tepat dengan cara-cara yang elegan. Para penanya mungkin saja tidak bermaksud untuk menyudutkan pelamar, tetapi lebih didasarkan pada kepedulian mereka terhadap kecocokan antara pelamar (calon karyawan) dengan budaya yang ada dalam perusahaan. Oleh karena itu jika pelamar ditanyakan mengenai hal-hal yang dirasa tidak berhubungan dengan pekerjaan yang ditawarkan, pelamar harus mampu mengidentifikasi apa makna dibalik pertanyaan tersebut. Untuk merespon pertanyaan-pertanyaan yang bersifat pribadi, pelamar dapat melakukan beberapa alternatif:

· Pelamar bisa mengklarifikasi kepada penanya apa relevansi pertanyaan yang diajukan dengan jabatan yang dilamar sehingga penanya dapat menjelaskan lebih jauh hubungannya dengan pekerjaan, lalu berikan jawaban yang tepat.
· Pelamar dapat menjawab langsung secara diplomatis dengan kesadaran penuh bahwa pertanyaan tersebut memang tidak memiliki hubungan langsung dengan pekerjaan / jabatan yang dilamar.
· Pelamar bisa juga menolak untuk menjawab pertanyaan tersebut jika dirasa sangat mengganggu privacy pelamar. Jika hal ini terpaksa dilakukan, maka harus dilakukan dengan cara-cara halus dan diplomatis sehingga recruiter tidak merasa dilecehkan karena dianggap telah memberikan pertanyaan yang keliru.
Faktor-Faktor Negatif
Beberapa faktor, baik fisik maupun psikologis, yang harus diwaspadai oleh pelamar adalah faktor-faktor negatif yang menjadi perhatian pewawancara. Faktor-faktor tersebut misalnya:
· Penampilan diri yang terlihat tidak professional (dandanan menor, pakaian yang tidak enak dilihat, tidak rapi, dan tidak sesuai suasana)
· Bersikap angkuh, defensive atau agresif
· Ogah-ogahan (tidak terlihat antusias atau tertarik dengan materi pembicaraan yang diajukan pewawancara)
· Gugup
· Sangat menekankan pada kompensasi yang akan diterima
· Selalu berusaha mencari-cari alasan atas setiap kegagalan yang pernah dialami di masa lalu
· Tidak bisa berdiplomasi dan kurang bisa bersopan santun
· Menyalahkan perusahaan lama atau bekas atasan dimasa lalu, atau mengeluhkan perubahan teknologi yang cepat
· Tidak bisa fokus dalam menjawab pertanyaan atau pembicaraan pewawancara
· Gagal memberikan pertanyaan kepada pewawancara
· Berulang kali bertanya: “apa yang dapat diberikan perusahaan kepada saya kalau saya melakukan ......?”
· Kurang persiapan: gagal memperoleh informasi penting seputar perusahaan, gagal menjawab pertanyaan-pertanyaan pewawancara dan tidak bisa mengajukan pertanyaan bermutu kepada pewawancara.
Beberapa Saran
Bagi anda pencari kerja yang dipanggil untuk menjalani wawancara kerja, mungkin ada baiknya anda memperhatikan beberapa saran dibawah ini.
Lakukan hal-hal berikut:
· Pastikan anda sudah tahu tempat wawancara
· Jika tidak diberitahu terlebih dahulu jenis pakaian apa yang harus dipakai, maka gunakan pakaian yang bersifat formal,bersih dan rapi
· Mempersiapkan diri menjawab pertanyaan-pertanyaan yang mungkin akan diajukan pewawancara
· Usahakan untuk tiba 10 (sepuluh) menit lebih awal, jika terpaksa terlambat karena ada gangguan di perjalanan segera beritahu perusahaan (pewawancara)
· Sapa satpam atau resepsionis yang anda temui dengan ramah
· Jika harus mengisi formulir, isilah dengan lengkap dan rapi.
· Ucapkan salam (selamat pagi / siang / sore) kepada para pewawancara dan jika harus berjabat tangan, jabatlah dengan erat (tidak terlalu keras namun tidak lemas)
· Tetaplah berdiri sampai anda dipersilakan untuk duduk. Duduk dengan posisi yang tegak dan seimbang
· Persiapkan surat lamaran dan CV anda
· Ingat dengan baik nama pewawancara
· Lakukan kontak mata dengan pewawancara
· Tetap fokus pada pertanyaan yang diajukan pewawancara
· Tunjukkan antusiasme dan ketertarikan anda pada jabatan yang dilamar dan pada perusahaan
· Gunakan bahasa formal, bukan prokem atau bahasa gaul; kecuali anda diwawancarai untuk mampu menggunakan bahasa tersebut
· Tampilkan hal-hal positif yang pernah anda raih
· Tunjukkan energi dan rasa percaya diri yang tinggi
· Tunjukkan apa yang bisa anda perbuat untuk perusahaan bukan apa yang bisa diberikan oleh perusahaan kepada anda
· Jelaskan serinci mungkin hal-hal yang ditanyakan oleh pewawancara
· Ajukan beberapa pertanyaan bermutu diseputar pekerjaan anda dan bisnis perusahaan secara umum
· Berbicara dengan cukup keras sehingga suara jelas terdengar oleh pewawancara
· Akhiri wawancara dengan menanyakan apa yang harus anda lakukan selanjutnya
· Ucapkan banyak terima kasih kepada pewawancara atas waktu dan kesempatan yang diberikan kepada anda.
Hindari hal-hal berikut:
Berasumsi bahwa anda tahu tempat wawancara, padahal anda tidak yakin
· Tidak melatih diri untuk menjawab pertanyaan yang kira-kira akan diajukan pewawancara
· Berpakaian seadanya atau berpakaian dan berdandan sangat mencolok
· Datang terlambat
· Tidak membawa surat lamaran dan CV
· Menganggap remeh satpam, resepsionis bahkan pewawancara
· Menjabat tangan pewawancara dengan lemas dan gemetar
· Merokok, mengunyah permen atau meludah selama wawancara
· Duduk selonjor atau bersandar
· Berbicara terlalu keras atau terlalu lembut
· Membuat lelucon
· Menjawab sekedarnya saja, seperti “ya” atau “tidak” atau “tidak tahu” atau “entahlah”.
· Terlalu lama berpikir setiap kali menjawab
· Mengalihkan topik pembicaraan ke hal-hal yang tidak ada hubungan dengan pekerjaan
· Menyalahkan mantan atasan, mantan rekan kerja atau perusahaan yang lama
· Memberikan jawaban palsu, berbohong atau memanipulasi data
· Menanyakan gaji dan fasilitas yang diterima pada saat wawancara seleksi dimana anda belum tahu kemungkinan anda akan diterima atau tidak
· Memperlihatkan rasa putus asa anda dengan menunjukkan bahwa anda mau bekerja untuk bidang apa saja dan mau melakukan apa saja asal bisa diterima bekerja di perusahaan tersebut
· Membahas hal-hal negatif dari anda yang akan merugikan diri anda sendiri
· Mengemukakan hal-hal yang dianggap masih kontroversial
· Menelpon atau menerima telepon, atau membaca buku selama wawancara
· Salah menyebut nama pewawancara
· Tidak mengajukan pertanyaan pada saat diberikan kesempatan untuk bertanya
· Lupa mengucapkan terima kasih kepada para pewawancara
Mengingat bahwa masih banyak calon karyawan yang menghadapi kendala dalam menjalani wawancara kerja, artikel ini diharapkan dapat memberikan sedikit pencerahan bagi mereka sehingga lebih siap dan percaya diri. Saya yakin masih banyak cara-cara yang mungkin belum tertulis dalam artikel ini, namun setidaknya jika anda melaksanakan saran-saran yang ada di atas maka anda akan memiliki bekal yang cukup dalam menghadapi wawancara kerja. Selamat mencoba dan semoga anda sukses diterima bekerja dan menemukan pekerjaan sesuai dengan yang anda inginkan. (jp)
Posted by 2hard4remember.aka.achenx Label:Kesempatan
The three secrets we`re about to share are only "secrets" in that they are the most often overlooked things to do connected with your job search. They`re actually quite simple steps to take that really aren`t a big deal -- unless you skip them
Secret no.1: Define "Job" and "Career"
We`re not talking about knowing if you`re looking for a job as a cosmetics salesperson, a bond trader, or a salmon fisher. While it`s important to know what occupation you`re aiming for, it`s even more important to think about bigger picture issues, like expectations, identity, and lifelong career paths. Pretty lofty subjects.
It`s hard to avoid being identified by the job you do or the occupational field you`re a part of -- everybody wants to know what you do. This cultural norm can be a real pain for people who get their intrinsic rewards from pursuits other than the activity that brings the paycheck.
A career is all the things you are doing at any given point in time to create a satisfying life while setting and working toward goals.
You might work as a waiter for money but also intern and take classes to develop your career. Whether you`re 22 or 52, that combination is just as respectable as being on the fast-track in a traditional, full-time job. So, as a first strategy for getting a job, reflect on your own definition of what a "good" job is, and consequently, what success means to you.
Evolutionary Matters
We`re basically saying that careers evolve over time and that to understand whether any given job is worthwhile and right for you, you have to know what careers are all about. Most every career expert will agree that careers are developmental. You don`t just choose to be a whatever at the age of 18 or 22 or 26 and do that for the rest of your life. You`re likely to have several different occupations (i.e., the specific fields you work in) and many different jobs (i.e., the positions you hold) over a lifetime.
Changing the Norm
What used to be called "job hopping" has become the more acceptable "career transitioning." And people who have part-time jobs in different fields or work as consultants and maybe go to school part-time are no longer called "scattered" -- they`re now called "portfolio people" because they`ve creatively patched together a career out of a variety of skills and experiences. These different occupations and jobs amount to a career.
Secret #2: Know Yourself and What You Want
One of the easiest ways to sabotage your search is to come across as unfocused. True, in Secret #1 we said it`s okay not to have a definite career direction because it`s unrealistic to think you can perfectly plan out a career path. However, you do have to be focused during a job search. You can be crystal clear that a job you are applying for is right on target, even if you`re a little fuzzy on your long-range goals.
Whether through letters, phone calls, or interviews, every moment of contact with prospective employers must convey that you have a focus and that you arrived at that focus carefully and thoughtfully. Your focus is that you know why any given job would be right for you and why you should be hired.
Me, Myself, and I
Ask yourself three questions: What do I like? What do I do well? and What do I care about? The answers correspond to the categories interests, skills, and values. By contemplating these questions, you`re also addressing the question: "Who am I and which kinds of environments will I thrive in?"

• Interests: things that we enjoy doing, discussing, or daydreaming about, e.g., hobbies, sports, academic subjects, work activities, etc. Your job is to decide which interests need to be a part of your work life.
• Skills: a broad category that encompasses three main areas: learned skills (tangible things we`ve learned how to do, like using a computer or writing a newspaper article); innate skills (aptitudes or talents, like mechanical or writing abilities); and personality skills (like being hard-working, detail-oriented, or creative). Deciding which skills you enjoy using is an important factor in defining a career focus, but is especially critical in obtaining a job. (Secret #3 talks much more about assessment of your skills and their role in marketing yourself for a job.)
• Values: at times, making money might be a priority; at other points, doing good for the world might be more important. If you`re in or recently out of college, you may not know where you stand, but you can look for patterns you`ve already developed. Were you the kid who was always selling something, or the one in the corner drawing pictures?
What Jobs are Right for Me?
Assess your interests, strengths, values, and personality style. You can takeformal, standardized tests, or you can complete informal paper-pencil exercises found in career guidebooks or from career counselors. Or, you can simply observe and analyze your daily thoughts and habits to find clues to what floats your boat. Whichever method you use, you`ll be compiling a personal evaluation and profile that will point you in the appropriate career direction.
Your goal is to decide what you want out of a job and a career. Once you`ve identified your interests, skills, and values, define your priorities. You might have a strong interest in oil painting but value job security and making money. If so, you`ll need a job that is more stable and lucrative -- maybe something on the business side of an arts organization. Or, you may choose to keep your art interest "pure" by painting in your spare time and doing a non-arts job to make money. Determine your priorities so you can focus on getting a job that meets your needs.

Secret #3: Know What You Have to Offer
It sounds obvious, but you have to focus on what you have to offer before you can expect to get a job. Prospective employers want to know one simple thing: What can you do for us? To get a job, you have to sell a prospective employer on your talents, skills, and potential.
Doing the self-assessment we advocated in Secret #2 is one way to do that. Your interests, skills, and values form the basis of the self-marketing campaign. It shows how you`ll add value to an organization. While interests and values are important in the self-marketing campaign, strengths and skills are hands down the most important facet of your campaign.
But I Don`t Have Any Skills
Don`t worry; employers are hiring you as much for your potential as for your concrete, job-related skills. They can teach you how to work their computer program or sell their products, but they can`t teach you how to think. It`s the age-old argument for a liberal arts education.
If you have physical or learning disabilities and have spent your school years focusing on your difficulties and strategies for overcoming them, then you may feel lacking in job-related skills. Some of the most successful people in a variety of fields have disabilities. The skills that have enabled you to cope and adapt are usually more useful in the job world than the skills that have enabled your classmates to ace academia or sports.

I am What I am
One way to demystify the confusing process of declaring your strengths is to think of them as falling into three categories:
• I am: "I am" skills are the broadest ones in that they reflect your capabilities, talents, and general areas of strength. They even border on being personality characteristics. For example, you might say: "I am artistic, I am mechanically inclined, I am easygoing, I am detail-oriented." The skills in this category are highly versatile and can be valued in any number of career fields.
• I can: "I can" skills are next broadest but a little more specifically linked to activities. They are such things as: "I can speak French fluently, I can do word processing, I can balance a budget." The I can skills are also transferable among many different fields.
• I know: "I know" skills are the most narrowly defined and most closely connected to a particular activity or content area. They might be, for example: "I know French business vocabulary, I know Microsoft Office, I know how to monitor accounts payable and receivable in a retail business."

Putting It in Perspective
After you`ve come up with your three sets of skills, think about the ones that will be the real selling points for getting a job. (These should also be the skills you`d like to use on a job.) You`ll now have your own "Skills Package." Your Skills Package is the backbone of successful letter and resume writing, interviewing, and negotiating. Refer to your Skills Package throughout your job search as you present yourself to prospective employers in writing, on the phone, and in person.
Good Luck !
Posted by 2hard4remember.aka.achenx Label:Kesempatan