Selasa, 05 Agustus 2008 at 00.55 |  
Marilah kita bangkit dan bersyukur, karena jikalau kita tidak belajar banyak hari ini, setidaknya kita telah sedikit belajar, dan jikalau kita tidak belajar sedikit, setidaknya kita jatuh sakit, dan andai kita jatuh sakitpun, setidaknya kita tidak mati, jadi marilah kita semua bersyukur. Sungguh luhur pernyataan diatas. Lalu mengapa kita tidak segera memanjatkan syukur sekalipun kita sedang berada di dalam kesulitan dan penderitaan? Mengapa kita harus terus terbenam didalam kesedihan dan keluhan ketika kita dihadapkan pada ujian dan cobaan? Bukankah selalu ada celah bagi kita untuk bersyukur dan terus bersyukur karena dibalik setiap kesulitan yang kita temui selalu ada berkah atau anugerah yang bisa kita syukuri?

Kalau mimpi adalah bunga-bunga tidur, maka persoalan itu adalah bunga-bunga hidup. Dan rintangan maupun cobaan adalah bunga-bunga di dalam pembinaan. Hidup dan membina diri adalah satu kesatuan, tak boleh dipisahkan. Baik mengalami cobaan atau rintangan di dalam hidup maupun pembinaan, kita harus senantiasa tegar dan kuat menghadapi sekaligus menjalaninya. Dan kekuatan untuk menerima serta menghadapi lika-liku kehidupan yang penuh anak duri adalah dengan senantiasa bersyukur, menghargai berkah sekaligus berbahagia.
Menerima lika-liku kehidupan bagaimanapun pahitnya bukanlah dengan menangis meraung-raung dan menyesalinya. Bukan pula dengan menyalahkan atau mengkambinghitamkan siapapun atau apapun. Melainkan dengan memahami bahwa dibalik setiap lika-liku kehidupan yang dijalani selalu ada anugerah yang terselubung dibaliknya. Bahwa semua itu adalah anugerah terindah yang diberikan Tuhan kepada kita. bahwa dibalik setiap kejadian pahit yang menimpa kita selalu ada hikmah yang bisa kita petik.


Kalau kita bisanya cuma mengeluh dan menyesali, terus memaksakan kehendak dan keinginan kita pribadi, menolak segala ketidaklancaran, terus tercekat dan tidak rela melepaskan, selalu menyalahkan atau mengkambinghitamkan yang lain, lalu bagaiman kita dapat menemui kebahagiaan yang sejati?

Adalah wajar manusia awam seperti kita menjadi lemah dan tidak berdaya saat dihadapkan pada lika liku hidup yang sama sekali tidak menyenangkan. Mungkin kita akan berpikir bagaimana mungkin lagi kita bisa bersyukur dan berbahagia didalam penderitaan dan kegetiran? Sedangkan membuka mulut untuk berbicara saja sudah begitu sulit dan berat, mana mungkin lagi mampu menggerakan bibir kita untuk untuk sekedar tersenyum bahkan tertawa? Padahal jikalau kita bisa bisa menerima lika-liku kehidupan sebagai anugerah terselubung sekaligus dengan penuh rasa syukur dan bahagia menjalaninya, maka pecayalah hidup tak akan lagi terasa berat dan menakutkan. Malahan sebaliknya menjadi begitu indah dan menyenangkan.

Bagaimanapun hidup tidak berhenti pada kesulitan maupun hambatan yang menghadang. Selalu ada celah untuk keluar dan menyelamatkan diri dari setiap jurang kesukaran yang menganga. Masalahnya hanya pada mau atau tidak kita bangkit dan memutar haluan.

Mungkin selama ini jiwa kita terlalu sempit untuk menerima sebuah kegagalan ataupun hinaan.Mungkin kita akan segera jatuh dan tak pernah mampu bangkit lagi ketika kita dihadapkan pada cobaan-cobaan yang berat dan menakuktkan.Mungkin kita merasa taka akan pernah sembuh dari trauma saat kita menghadapi kegagalan maupun kehilangan.
Tetapi hidup tidak pernah berhenti sampai disitu saja. Hidup terus berjalan. Mengapa kita harus menghentikan langkah kita dan tak pernah mau beranjak dari trauma, kegagalan dan kepahitan hidup kita, sementara kita masih memiliki begitu banyak jalan menuju kebahagiaan, kecemerlangan dan keberhasilan didepan mata kita?

Hidup tak harus berhenti pada trauma kita, kegagalan kita, kepahitan hidup kita, kesedihan kita, penderitaan kita atau apapun yang membuat kita menjadi tidak berdaya dan putus asa.Tidak sama sekali!Justru sebaliknya, hidup kita baru dimulai pada saat kita dihadapkan pada ujian, cobaan, rintangan, hambatan, kesakitan ataupun penderitaan yang seolah membelenggu kaki kita untuk melangkah lebih jauh. Itulah titik start terbaik dalam hidup kita.

Apakah kita akan segera beranjak dan melangkah menuju hidup yang lebih berkualitas? Atau sebaliknya kita berhenti ditempat dan mundur sama sekali?Saat itulah starting point kita yang terpenting. Jadi apakah kita akan terus melakukan kekonyolan dalam hidup ini dengan menjadi tidak berdaya, lemah dan putus asa ketika kesulitan atau kegagalan menerpa kita? Atau sebaliknya kita segera bangkit, dengan penuh rasa syukur dan bahagia menerima lika-liku hidup yang segetir apapun, demi sebuah kemenangan dan kecemerlangan?

Terus terang tidak semua orang bisa dengan pasrah dan tegar menerima cobaan maupun kesulitan yang datang ke dalam hidupnya. Saat diterjang kesulitan dan ujian kita seringkali meronta, berontak, mengeluh, tidak puas, meyalahkan semuanya lalu kemudian tenggelam didalam tangisan dan menjadi orang yang tak berdaya dan putus asa. Bahkan tidak jarang kita sering kali memutar-balikkan fakta, mengkambinghitamkan apapun demi berkelit dari sebuah penyalahan kepada diri sendiri. Sebaliknya pula kita mungkin akan menyalahkan diri sendiri, berusaha mencari alasan atau alibi untuk lari dari kenyataan, dan selanjutnya menghukum diri sendiri. Lalu kita kita tak akan pernah bangkit lagi hanya karena sebuah alasan " TRAUMA". Tapi pantaskah kita mengorbankan hidup kita yang begitu indah ini, hanya karena kita terlalu lemah untuk bangkit dan menerima sekaligus mensyukuri lika-liku hidup kita sebagai anugerah terselubung yang membahagiakan?

Singkatnya, lika-liku hidup yang tidak lancar bukanlah sebuah kutukan yang harus ditakuti. Buka pula sebuah drama tragis yang harus ditangisi dan disesali. Melainkan sebuah anugerah terindah yang sepatutnya disyukuri. Justru dengan adanya lika-liku hidup yang tidak menyenangkan barulah membuat kita semakin dewasa, tegar dan lebih kuat mengarungi babak-babak kehidupan selanjutnya. Tanpa adanya rintangan, hambatan, ujian, dan cobaan maka kita tidak mungkin melalui proses indah menuju kedewasaan Nurani. Tanpa mengalami kesakitan dan penderitaan kita tidak akan mampu memahami hidup ini dengan sebenar-benarnya. Apalagi segala yang kita temui dan hadapi di dunia ini adalah sebuah proses menuju kecemerlangan Nurani. Jikalau kita bisa melewati masa-masa sulit dan lika-liku hidup yang begitu tidak lancar dengan bersyukur dan berlapang dada, niscaya jiwa dan Nurani kita akan tertempa menjadi lebih lebih cemerlang menuju kemurniannya. Kita pun akan lebih rileks menjalani hidup ini, beban pun menjadi terasa lebih ringan.

Dengan memahami dan menerima bahwa lika-liku hidup yang dialami adalah anugerah terselubung yang sepatutnya disyukuri dan dihargai, maka kita akan lebih bahagia menjalani hidup ini. Kita akan senantiasa mensyukuri lika-liku hidup yang sepahit apapun. Kita akan menghargai setiap momen dan kesempatan untuk mengasah diri kita memnjadi lebih baik dan kuat.

Bahwa masa-masa sulit adalah masa-masa terbaik bagi kita untuk berinstropeksi diri dan belajar dari kesalahan atau kegagalan kita sebelumnya. Bukankah dengan belajar dari kesalahan masa lalu dan senantiasa mengambil hikmah dari lika-liku hidup kita membuat kita semakin mawas diri untuk tidak lagi membuat kesalahan kedua dan seterusnya? Kitapun akan tetap bangkit dan berjaung mengarungi lika-liku kehidupan dengan hati yang leluasa dan penuh rasa syukur, untuk kemudian berbahagia didalam lika-liku kehidupan yang bagaimanapun bentuknya.


"Dikutip dari salah satu situs kasih"

"Kebanyakan dari kita tidak mensyukuri apa yang sudah kita miliki, tetapi kita selalu menyesali apa yang belum kita capai" ( SCHOPENHAUER)
Posted by 2hard4remember.aka.achenx Label:Kesempatan

0 comments: